Purwokerto, 16/10 – Dua mahasiswa dari Prodi Pendidikan Geografi,Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Afildha Fonika dan Maulida Fahrani, mempresentasikan progress riset mereka mengenai pengetahuan lokal spasial erupsi Gunung Slamet di hadapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas. Riset yang diketuai oleh Dr.rer.nat. Anang Widhi Nirwansyah, M.Sc. didanai oleh KEMDIKBUD-RISTEK melalui skema Kolaborasi Penelitian Strategis (KATALIS). Adapun kolaborasi riset dengan 3 perguruan tinggi (UMP-UMS dan UNS) ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai pengetahuan berbasis lokasi yang terkait dengan bencana gunungapi, dan upaya pemanfaatan sebagai materi ajar.

Mahasiswa pendidikan geografi presentasi di BPBD Banyumas
Dalam presentasinya, kedua mahasiswa menyoroti pengetahuan lokal yang saat ini ada dalam masyarakat khususnya yang berbentuk (tacit knowledge). Pengetahuan ini berkembangan pada kelompok masyarakat dan sangat terkait dengan lingkungan mereka tinggal. Disisi lain, penelitian ini juga mengidentifikasi kondisi pemahaman guru dan sekolah terhadap kegiatan pengurangan risiko bencana melalui kegiatan pembelajaran dan pengembangan kurikulum berbasis kebencanaan pada Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Hasil riset awal yang telah dilakukan menunjukkan bahwa omitigasi bencana pada masyarakat yang rawan bencana erupsi di Kabupaten Banyumas belum optimal. Namun, melalui program KATALIS, diharapkan dapat lahir strategi baru yang lebih efektif, melalui pengembangan materi ajar berbasis proyek di sekolah menengah.
“Dari hasil penelitian ini, kami mencari masukan dan rekomendasi baik untuk BPBD maupun lembaga pendidikan. Kami berharap rekomendasi ini dapat diimplementasikan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Afildha.
Salah satu rekomendasi yang diajukan adalah perlunya melibatkan lebih banyak pihak dalam pengumpulan data, seperti perangkat desa, tokoh masyarakat, relawan kebencanaan, dan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB). Selain itu, penting juga untuk menggali lebih dalam mengenai kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan dalam upaya mitigasi bencana.
“Akar masalah harus diidentifikasi sejak awal agar solusi yang tepat dapat diberikan,” tambah Maulida.
Diskusi yang berlangsung setelah presentasi menghasilkan berbagai masukan yang berharga. Para peserta menyoroti pentingnya menggunakan instrumen wawancara yang reliabel, melibatkan pakar dalam pengumpulan data, serta membangun relasi yang kuat antara konsep-konsep ilmiah dengan permasalahan di lapangan.
“Kami berharap hasil riset ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan dan program mitigasi bencana di wilayah Gunung Slamet,” ujar Kepala BPBD Banyumas.
Dengan adanya riset ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana dan mampu mengambil tindakan yang tepat jika terjadi bencana (AWN).
