Indonesia merupakan negara yang dijuluki sebagai “laboratorium bencana” salah satu bencana yang sering terjadi adalah tanah longsor khususnya pada daerah yang memiliki kemiringan lereng curam (45-65%) hingga sangat curam (> 65%). Terlebih ketika memasuki musim penghujan wilayah Indonesia rentan sekali terkena bencana hidrometeorologi, bencana-bencana yang disebabkan oleh aktifitas cuaca. Wilayah Kabupaten Banyumas menjadi salah satu wilayah yang memiliki resiko tinggi bencana tanah longsor.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Dr.Suwarno, M.Si bersama dosen-dosen Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, bekerjasama dengan Universitas Ataturk, Turki mengkaji tentang kearifan lokal dan mitigasi bencana masyarakat Banyumas di Desa Gununglurah, Jawa Tengah, terhadap bencana longsor. Output kajian ini berupa jurnal internasional dengan judul “The Existence of Indigenous Knowledge and Local Landslide Mitigation: A Case Study of Banyumas People in Gununglurah Village, Central Java, Indonesia“
Banyak hal menarik yang ditemukan dalam proses pengkajian ini salah satunya kebudayaan lokal yang diterapkan oleh masyarakat menjadi bekal pengetahuan dan strategi dalam upaya mitigasi bencana. Masyarakat Banyumas memiliki prinsip pemahaman dasar tentang menandai, meniru, dan menambahkan (malam hari,nirokke, dan nambahake) sebagai upaya bertahan hidup dan menjaga penghidupan mereka diberbagai kondisi. (Putri A.H)



