Pengembangan riset keilmuan pada Program Studi Pendidikan Geografi UMP terus digalakkan, terutama pada internasionalisasi hasil penelitian melalui publikasi karya dosen dan mahasiswa di tingkat internasional. Setelah sebelumnya melaksanakan program outbond riset di Papua Nugini, kali ini Geografi UMP mendapatkan kesempatan untuk berbagi hasil riset dengan Eropa. Sebanyak 25 dari Jerman dari Institute of Geography, University of Cologne, Jerman melaksanakan international fieldwork untuk mempelajari karakteristik landskap tambak garam di pesisir utara Jawa. Ketertarikan tersebut merupakan bentuk follow up hasil joint-publication sebelumnya antara Dr.rer.nat. Anang Widhi Nirwansyah, M.Sc dengan Prof. Boris Braun yang meneliti implikasi ekonomi banjir pasang pada lahan produksi garam tradisional di Cirebon, Jawa Barat. Kegiatan ini juga dilaksanakan mendapatkan dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Cirebon, dengan pendampingan Bpk. Baihaqi (Kabid Perikanan tangkap) dan Bpk. Eka R Kurniawan.

Kehadiran mahasiswa Jerman di Desa Rawaurip, Cirebon. Prof Boris (kiri), Dr. Anang, Kades Rawaurip Bpk Lukman, dan Kabid Perikanan Tangkap Baihaqi (foto: Eka)
Penelitian yang juga telah diterbitkan di Jurnal internasional bereputasi dengan judul “Method for economic loss estimation in traditional coastal salt farming towards tidal inundation” yang merupakan bagian dari kerjasama riset internasional dengan pendanaan dari LPPM UMP. Kehadiran mahasiswa asing tersebut disambut meriah oleh warga Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan yang mengkoordinir kegiatan secara bersama-sama.
Pak Lukman sebagai Kepala Desa mengungkapkan rasa bangganya terhadap kehadiran mahasiswa dari Jerman yang mau belajar bagaimana proses produksi garam tradisional di desanya. Menurut penuturannya, Rawaurip merupakan desa penghasil garam terbesar di Cirebon dan menjadi sentra produksi garam tingkat nasional. Lebih dari 20% produksi garam saat ini disuplai oleh masyarakat petani garam yang secara turun menurun melestarikan budaya produksi garam.
Peneliti lahan garam sekaligus dosen geografi, Dr. Anang WN, M.Sc, memberikan penjelasan yang detil pada proses produksi garam yang memanfaatkan tenaga matahari dalam proses evaporasi air laut hingga menjadi kristal garam. Dari desain layout tambak-tambak garam ini, setiap tahun masyarakat dapat menghasilkan rata-rata 60 ton/hektar, dengan sistem produksi harian. Masa produksi dimulai dari bulan April dimana petani mempersiapkan lahannya. Proses ekstraksi garam akan dilakukan saat musim kemarau selama rerata 4 bulan produksi Juni-Oktober dimana petani akan menghasilkan rata-rata 2,5 kuintal – 1 ton dalam sekali pengerokan.

Peneliti lahan garam memberikan penjelasan mengenai proses produksi garam yang dilakukan secara tradisional dengan teknologi pencucian sederhana (foto: Eka)
Mahasiswa Jerman yang sebagian besar baru pertama kali melihat proses produksi garam secara tradisional merasakan pengalaman luar biasa ketika melihat teknologi yang dikembangkan dan proses industrialisasi garam yang juga terjadi. Selain mengunjungi lahan garam, mahasiswa juga melakukan diskusi bersama petani garam dan juga secara langsung mengunjungi pabrik pengolahan garam di Kecamatan Mundu dimana garam diolah secara mekanik dengan menggunakan mesin.

Foto bersama mahasiswa Jerman ketika mengunjungi PT NGS di Kecamatan Mundu (foto: Eka)
Kedepan, Prof Braun memberikan kesempatan kepada Geografi UMP untuk melakukan kolaborasi riset lanjutan dan mendorong untuk mahasiswa UMP melakukan studi banding dengan proses produksi garam di Jerman yang dilakukan lewat underground mining. (AWN)
